Mengapa Tak Mau Minta Maaf? Bag4

Di sinilah peran penting orangtua dalam membimbing buah hatinya agar memahami bahwa permintaan maaf tidak hanya sekadar ucapan, tetapi juga dapat ditunjukkan melalui sikap dan perbuatan. Kita dapat membantu anak mencari alternatif tindakan sebagai wujud penyesalan, diantaranya dengan tidak mengulangi kesalahan yang sama serta melakukan sesuatu untuk menunjukkan tanggung jawab atas kesalahan yang dilakukan.

“ lowongan kerja di Jerman untuk lulusan SMA gratis dan syarat mudah “

Terakhir, kita juga perlu mengajari anak agar mau memaafkan orang lain. Untuk itu, ia perlu dibantu untuk melihat sudut pandang orang lain, agar ia dapat memaklumi kesalahan yang dilakukan oleh orang lain tersebut. Saat mainan kakak direbut oleh adik, misalnya, kita bisa berkata, “Oh, mungkin Adik ingin pinjam tapi belum tahu cara bilangnya ya, jadi langsung merebut. Nanti kita minta baikbaik ya, Kak. Sekarang, kita ambil mainan yang lain, lalu kita ajak Adik main sama-sama ya.”

Mengarahkan kakak untuk mengajak main bersama, meskipun adiknya baru saja melakukan kesalahan adalah wujud contoh perilaku memaafkan. Kita juga dapat mengajarkan memaafkan dengan cara memberi contoh langsung. Saat anak melakukan kesalahan dan meminta maaf, tunjukkan ekspresi memaafkan melalui kata-kata, disertai perubahan ekspresi marah atau sedih menjadi ekspresi yang lebih ceria. Berikan juga sentuhan atau pelukan. Setelah kita dan anak lebih tenang, baru ajak ia beraktivitas bersama sebagai wujud nyata bahwa ia sudah dimaafkan.

Jangan biarkan emosi meledak. Menjadi orangtua memang tak punya hari libur. Jika pas libur pun, niat hati ingin bersenang-senang bersama anak, tapi ada saja ulah anak yang bikin kita gemas, geregetan, sampai kesal. Merengek ini itu, menangis, sampai tantrum. Cara mengatasinya satu: jangan biarkan emosi (rasa kesal, amarah, kecewa, dll.) langsung meledak di hadapan anak.

Kalau kesal dengan ulah anak, boleh saja kita tinggalkan ia sebentar untuk menenangkan diri. Jika sudah tenang, baru hadapi anak, tanya dan dengarkan ceritanya. Fokuslah pada hal yang bisa kita kendalikan, yakni cara kita merespons ulah anak. Dengan demikian, kita bisa membantu anak menyelesaikan masalah yang ia hadapi, bukan malah menambah persoalan dengan langsung marah-marah pada anak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *