Haru Dan Tawa Dari Selembar Foto

Saat ini, orangtua di Amerika Serikat dan Inggris sedang demam memotret ekspresi bayi mereka dan mengabadikannya dalam sebuah pose dalam gelas (mug). Namanya “Baby mugging”. Pose terse but menjadi tren gara-gara seorang blogger di Amerika mengunggah foto bayinya yang berusia lima bulan dengan gaya seperti sedang mengintip keluar dari gelas. Ide uniknya ini membuat foto tersebut menyebar dan menjadi sensasi di hampir semua media sosial Amerika dan Inggris. Tanpa kita sadari, hampir sebagian besar aktivitas manusia dengan berbagai kehidupannya dapat difoto untuk dijadikan sebagai sebuah dokumentasi.

Baca juga : Kursus Bahasa Jerman di Jakarta

Kelahiran, pernikahan, kematian, dan masih banyak momen serta kejadian lainnya. Dokumentasi ini bisa menjadi bukti yang mengundang senyuman, keharuan, tawa, air mata dan berbagai jenis ekpresi lainnya pada waktu kita melihat kembali foto-foto kita dulu. Sayangnya, bagi sebagian orangtua, mendokumentasikan berbagai momen dan kejadian, serta ekspresi lucu dan menggemaskan si kecil, tak menjadi hal penting. Bahkan, aktivitas ini seringkali dianggap dengan menghabiskan waktu atau “enggak ada kerjaan”. Padahal, mendokumentasi foto dan video sewaktu momen dan ekspresi itu terjadi dapat menjadi kenangan yang indah dan tak terlupakan.

Seperti cerita Papa Wahyu Sugianto, komikus, fotografer dan pemilik Plankton Studio yang terselamatkan oleh selembar foto jepretannya. Ia berhasil menenangkan anak pertamanya, Padmasari Rahayu Sugianto (10), ketika merasa kurang disayang oleh orangtuanya dibandingkan dengan adiknya, Gautama Putra Sugianto (8). “walau saya tidak sempat untuk mengambil foto dari semua momen dan ekspresi anak saya dari sejak lahir, tetapi alhamdulillah, saya sempat memotret momen ketika Padma usianya masih beberapa minggu sedang dijemur di bawah sinar matahari pagi.

Ceritanya, suatu hari si kakak ngambek, iri atas perlakuan saya kepada adiknya yang dianggapnya berlebihan. Untuk menenangkannya, saya teringat sebuah foto si kakak di kala masih bayi. Saya bilang, ‘Ayah dan Bunda tidak pernah membedakan kasih sayang kepada setiap anaknya. Lihat foto kamu ini Nak. Ini foto Ayah ambil ketika adikmu belum lahir.’ Lalu wajahnya ceria lagi. He he he.. judulnya saya terselamatkan oleh selembar foto!” tuturnya sambil mengelus dada.

Dari cerita Papa Wahyu, jelas bahwa selembar kertas foto bisa membuat anak merasa nyaman kembali. Di sinilah peran penting sebuah dokumentasi. Oleh karena itu, bagi Wahyu, dokumentasi itu seperti cermin. Momen-momen yang terjadi bisa menjadi bahan introspeksi buatnya selaku orangtua mengenai kondisi awal anak dan harapan kita terhadap mereka. Dokumentasi juga menjadi bahan referensi baginya untuk mengajarkan nilai-nilai kebaikan kepada si kecil karena biasanya mereka tak ingat momen-momen yang terjadi ketika mereka masih berusia di bawah 5 tahun.

Masa Subur, The Golden Moment

Kenapa masa subur penting? Kita coba analogikan secara seder- hana. Kita tahu dalam hubungan antarpasangan ada yang disebut Long Distance Relationship. Artinya, keduanya terpisah jarak yang sangat jauh sehingga frekuensi untuk ketemu terbilang jarang. Nah, begitu juga antara sperma dan sel telur. Pada tiap bulan, kesempatan dari sperma untuk dapat “bertemu” sel telur bisa dibilang cukup terbatas. Sebulan sekali perempuan memasuki masa subur (ovulasi).

Baca juga : Tes Toefl Jakarta

Di masa ini, sel telur (ovum) dilepaskan oleh indung telur (ovarium) dan telah siap untuk dibuahi oleh sperma. Inilah masa emas yang dimaksud. Jika pada masa ini sel telur gagal dibuahi sperma, hilanglah kesempatan untuk dapat hamil. Peluang berikutnya di bulan depan lagi. Demikian seterusnya. Jadi, dengan memahami kapan masa subur, dapat diketahui kapan waktu yang terbaik untuk melakukan hubungan intim sehingga kemungkinan terjadi kehamilan meningkat. Nah, bagaimana cara untuk mengetahui secara tepat masa subur ini? Yakni, dengan menghitung berdasarkan siklus haid.

SIKLUS HAID NORMAL/TERATUR Masa subur terjadi sekitar 14 hari sebelum hari pertama haid berikutnya. Waktunya dapat berbeda beda maju atau mundur dua hari sesudah atau sebelum hari ke-14. Masa subur sangat bergantung pada lamanya siklus haid. Secara mudah dapat diperkirakan, masa subur terjadi mulai dari hari ke-12 hingga ke-16 siklus haid pada perempuan dengan siklus haid 28 hari. Nah, untuk menaikkan angka keberhasilan terjadinya kehamilan, disarankan agar melakukan berhubungan intim pada hari-hari tersebut dengan interval waktu 2-3 hari sekali. Begini contohnya. Awal menstruasi Mama terjadi pada tanggal 9 Mei, maka tanggal tersebut bisa ditandai sebagai hari ke-1. Sedangkan masa subur jatuh di hari ke-12 (20 Mei) hingga hari ke-16 (24 Mei).

Secara sederhana, Mama dapat menghitung masa subur dengan mencatat jadwal menstruasi seperti berikut: • Hari 1-5. Adalah siklus di hari pertama menstruasi. Mama perlu mencatat tanggal ini agar dapat menghitung perkiraan waktu ovulasi. • Hari 6-11. Mama sudah tidak menstruasi, tetapi periode ini bukanlah masa subur. Tubuh, pada tahap ini sedang melakukan proses mempersiapkan pelepasan telur. • Hari 12-16. Inilah hari-hari paling subur. Tubuh akan melepas telur pada salah satu dari beberapa hari tersebut. Ini adalah waktu terbaik untuk berhubungan intim. Pasalnya, masa hidup sel sperma sekitar selama 3 hari sedangkan sel telur 1 hari. • Hari 17-28. Berhubungan intim ketika periode ini hampir tidak terdapat peluang untuk terjadi kehamilan.

sumber : https://pascal-edu.com/